Wawasan Mingguan Pasar Indonesia (19 April - 23 April 2021) - Raiz Invest

Pasar saham dalam seminggu terakhir kembali mengalami tekanan jual. IHSG ditutup melemah 1,14% dan LQ juga ditutup melemah 0,54% dalam seminggu terakhir. Pelemahan pasar saham dalam seminggu terakhir dikarenakan oleh situasi COVID-19 di India dimana kasus hariannya naik signfikan dalam beberapa hari terakhir. Sehingga, dampak yang dilihat dari pandangan pasar adalah trajectory pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan lebih lambat dari yang diperkirakan karena beberapa faktor di bawah ini:

  1. Keterlambatan ketersediaan vaksin di Indonesia dikarenakan seluruh negara, termasuk Tiongkok, akan memfokuskan untuk mengirimkan vaksinnya ke India untuk membantu percepatan program vaksinasi;
  2. Produksi vaksin di India juga akan difokuskan untuk kebutuhan domestik terlebih dahulu untuk menganggulangi peningkatan kasus COVID-19 di India;
  3. Exodus warna negara India ke Indonesia dalam jumlah besar yang dapat berdampak pada peningkatan kasus harian di Indonesia.

Sumber: Bloomberg, Raiz Invest Indonesia

Di sisi lain, pasar obligasi pada sepekan terakhir ditutup menguat dengan yield turun 6bps. Kita melihat penguatan yield obligasi dalam seminggu terkahir dikarenakan domestic support dari domestik yang cukup kuat, terutama dari bank dan Bank Indonesia. Berdasarkan data dari DJPPR, bank dan Bank Indonesia telah membeli masuk ke pasar obligasi sebesar Rp 11,49 triliun dan Rp 15,29 triliun. Di sisi lain, investor asing juga mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia dengan inflow sebesar Rp 6,08 triliun. Kita melihat pasar obligasi masih mempunyai upside di tahun ini dikarenakan support dari bank dan Bank Indonesia yang masih kuat dan juga kepemilikan asing atas obligasi Indonesia yang masih rendah (23% vs. 42% sebelum pandemi COVID-19).

Sumber: DJPPR, Raiz Invest Indonesia

Sumber: Bloomberg, Raiz Invest Indonesia

Berita domestik minggu ini:

  1. Bank Indonesia tetap mempertahankan BI 7DRR pada level 3,50%, suku bunga deposito 2,75%, dan suku bunga pinjaman 4,25%. Hal ini dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar Rupiah;
  2. Bank Indonesia kembali menurunkan perkiraan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,1% menjadi 4,1% untuk tahun 2021;
  3. S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia (sovereign credit rating) pada BBB/negative outlook (masih dalam investment grade) dikarenakan prospek pertumbuhan ekonomi kuat.

Dari global, Bank Sentral Eropa (ECB) tetap mempertahankan suku bunga acuan dan pembelian obligasi (stimulus). Gubernur ECB, Christin Lagarde, mengatakan bahwa ekonomi kuartal pertama masih akan mengalami kontraksi namun akan bertumbuh pada kuartal kedua. Beliau juga menambahkan bahwa terlalu dini untuk ECB membicarakan pengurangan stimulus di kuartal tiga.

Dari Bank Sentral Amerika (Federal Reserve), Gubernur Jerome Powell, menyatakan bahwa perekonomian Amerika dalam “inflection point” dimana tunjangan pengangguran mulai berkurang, penjualan ritel mulai naik dan lebih dari setengah dewasa di Amerika sudah divaksinasi akan membuat pembatan sosial akan mulai berkurang dan perekonomian Amerika akan tumbuh. Walaupun demikian, Bank Sentral Amerika akan tetap mempertahankan suku bunga pada level yang sekarang walaupun inflasi berpotensi untuk naik di atas 2%.

Investor harus memperhatikan pernyataan Bank Sentral Amerika pada hari Rabu apakah akan ada indikasi kapan Bank Sentral Amerika akan mulai mengurangi program asset purchase sebesar USD120 miliar per bulan di saat ada potensi kenaikan inflasi dan suku bunga acuan mendekati 0%.

Sumber: Infovesta, Raiz Invest Indonesia

DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

 

Android/IOS

Investasi Sekarang! Download E-book Belajar Investasi Untuk Pemula


Ada Pertanyaan? whatsapp