Wawasan Mingguan Pasar Indonesia (10 - 11 Mei) - Raiz Invest

Pasar saham dalam seminggu terakhir kembali mengalami tekanan jual. IHSG ditutup melemah 0,43% dan LQ juga ditutup melemah 0,67% dalam seminggu terakhir. Tekanan jual yang terjadi selama sepekan terakhir lebih disebabkan oleh volume transaksi perdagangan yang cenderung turun menjelang libur Lebaran. Walaupun demikian, investor asing masih masuk ke pasar saham. Sebagai perbandingan, investor asing masuk ke pasar saham sebesar Rp1 triliun MTD dibandingkan periode yang sama bulan lalu yang keluar Rp3 triliun MTD

Kendati demikian, ada sentimen positif bagi pasar saham:

  1. Selama bulan April, penjualan mobil mencapai 78,908 unit yang menandakan bahwa stimulus yang diberikan oleh Pemerintah terkait pengurangan PPnBM berhasil mendorong konsumsi kelas menengah ke atas.

Sumber: Bloomberg, Raiz Invest Indonesia

Kendati demikian, investor perlu memerhatikan kenaikan jumlah kasus COVID-19 di Indonesia setelah libur Lebaran yang kemungkinan besar akan mengalami kenaikan (secara historis, kasus COVID-19 di Indonesia mengalami kenaikan beberapa minggu setelah libur panjang). Di media masa juga terdapat beberapa lokasi liburan yang padat dengan pengunjung tanpa memperhatikan Protokol Kesehatan sehingga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya gelombang kedua virus COVID-19 seperti di India.

Di sisi lain, pasar obligasi pada sepekan terakhir ditutup sedikit menguat dengan yield turun sebesar 2bps. Penurunan yield obligasi yang terjadi dalam sepekan terakhir disebabkan penguatan Rupiah yang sempat menyentuh level Rp14.100. Akan tetapi, investor obligasi tetap harus memantau situasi di Amerika Serikat terkait data inflasi yang keluar minggu lalu dan membuat investor berspekulasi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan.

Sumber: DJPPR, Raiz Invest Indonesia

Sumber: Bloomberg, Raiz Invest Indonesia

Dari global, data inflasi Amerika Serikat pada bulan April naik 4,2% yoy yang merupakan kenaikan tertinggi sejak 2008. Kita melihat kenaikan inflasi yang terjadi di Amerika Serikat lebih disebabkan karena low base effect dimana inflasi pada periode yang sama tahun lalu sangat rendah pada saat pandemi COVID-19 masuk ke Amerika Serikat. Selain itu, permintaan yang tinggi akibat relaksasi lockdown di beberapa negara bagian dengan persediaan yang masih sedikit juga berdampak pada kenaikan inflasi di Amerika Serikat.

Dengan kenaikan inflasi di bulan April, investor khawatir Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan. Kendati demikian, Federal Reserve tetap berkomitment untuk membiarkan inflasi berada di atas 2% untuk periode tertentu sampai job market kembali pulih ke level sebelum pandemi COVID-19.

Kita volatilitas pada pasar saham masih akan terjadi seiring dengan kekhawatiran akan terjadinya gelombang kedua COVID-19 yang disebabkan oleh penyebaran mutasi virus dari India yang lebih disebut lebih cepat menular. Nilai tukar Rupiah yang menguat selama sepekan terakhir tidak cukup kuat untuk menjadi katalis positif.

Kita melihat Reksa Dana berbasis obligasi dan saham masih menarik dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi pada 2H-2020 yang akan mulai membaik.

Kita memperkirakan neraca perdagangan bulan April masih akan mencetak surplus seiring dengan harga komoditas yang naik dan permintaan global yang masih tinggi. Nilai tukar Rupiah yang terus menguat dapat menjadi sentiment positif bagi pasar obligasi.

PRODUK PERFORMA 1 MINGGU PERFORMA (30 DECEMBER 2020 – 11 MEI 2021)
IHSG -0,43% -0,68%
LQ45 -0,67% -5,56%
Yield SUN 10 tahun -2bps 55bps
PASAR UANG
Avrist Likuid Fund 0,06% 1,47%
Manulife Dana Kas Syariah 0,07% 1,09%
PENDAPATAN TETAP
Avrist Bond Fund 0,29% -0,72%
Manulife Syariah Sukuk Indonesia -0,10% -0,86%
SAHAM    
Avrist Indeks LQ45 -0,62% -4,85%

Sumber: Infovesta, Raiz Invest Indonesia

Disclaimer

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

Android/IOS

Investasi Sekarang! Download E-book Belajar Investasi Untuk Pemula


Ada Pertanyaan? whatsapp