Resiko vs Keuntungan Reksa Dana Terproteksi - Raiz Invest

Apakah Raizers sudah membaca tentang blog sebelumnya tentang CPF dan fitur – fiturnya? Apabila belum, Raizers dapat membaca di blog melalui aplikasi Raiz.

Sekarang, kita akan membahas risk vs. reward Reksa Dana Terproteksi.

Apabila Raizers melihat data pasar modal, banyak sekali Manajer Investasi yang menerbitkan Reksa Dana Terproteksi. Produk Reksa Dana ini sangat diminati oleh banyak nasabah, baik nasabah retail maupun nasabah institusi. Bagi nasabah retail, mereka biasanya membandingkan antara Deposito dengan Reksa Dana Terproteksi.

Berikut adalah gambaran perbandingan Deposito dengan Reksa Dana Terproteksi:

Deposito Reksa Dana Terproteksi
Jenis Produk Produk Perbankan Produk Investasi
Sifat Instrumen Tabungan berjangka Portofolio efek obligasi korporasi (min. rating idA-)
Tenor (Jatuh Tempo) 3, 6, 12 bulan 3 – 5 tahun
Imbal Hasil (Return) Bunga deposito (dapat berubah sesuai dengan kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia) 1.     Capital Gain (potensi kenaikan harga obligasi korporasi)

2.     Pembagian kupon obligasi korporasi

Pajak Bunga 20% Bukan obyek pajak
Pencairan Harus menunggu jatuh tempo (kecuali kena denda) Ada waktu tertentu yang ditentukan oleh Manajer Investasi
Modal Minimum Min. Rp1 miliar Min. Rp1 juta
Risiko Penurunan bunga 1.     Risiko pasar (penurunan nilai Investasi)

2.     Risiko kredit

Jaminan Maksimal Rp2 miliar Ada (contoh: aset atau piutang Perusahaan penerbit surat utang)

 

  1. Jatuh Tempo – Deposito dan Reksa Dana Terproteksi mempunyai waktu jatuh tempo. Akan tetapi, waktu jatuh tempo untuk Deposito bervariasi mulai dari 3 bulan – 1 tahun. Sedangkan, Reksa Dana Terproteksi memiliki jatuh tempo minimum 3 tahun.

 

  1. Potensi Imbal Hasil – potensi imbal hasil Deposito sangat tergantung dari Suku Bunga Acuan Bank Indonesia. Sedangkan, potensi imbal hasil Reksa Dana Terproteksi bisa di atas potensi imbal hasil Deposito. Kenapa? Karena Reksa Dana Terproteksi memiliki underlying asset obligasi korporasi. Sehingga, nasabah Reksa Dana Terproteksi mendapatkan dua potensi keuntungan:
    1. Potensi kenaikan harga obligasi korporasi
    2. Pembagian kupon obligasi korporasi (yang mempunyai potensi lebih tinggi dibandingkan suku bunga Deposito)

 

  1. Modal Minimum – untuk menikmati potensi imbal hasil dari Deposito, nasabah harus menempatkan dana yang besar (contoh: minimum Rp1 miliar). Sedangkan, nasabah Reksa Dana Terproteksi dapat menikmati potensi imbal hasil di atas suku bunga Deposito dengan modal yang lebih rendah (contoh: minimum Rp1 juta)

 

Seperti yang kita tulis di blog sebelumnya, Raiz Invest Indonesia adalah APERD pertama di Indonesia yang ingin memberikan akses kepada nasabah yang tertarik untuk berinvestasi kepada Reksa Dana Terproteksi dengan nominal yang terjangkau.

 

Walaupun Reksa Dana Terproteksi termasuk Reksa Dana yang relatif aman dengan risiko yang terukur, akan tetapi semua instrumen investasi memiliki resiko, tidak terkecuali Reksa Dana Terproteksi.

 

Berikut adalah beberapa resiko yang nasabah perlu pahami sebelum membeli Reksa Dana Terproteksi:

 

  1. Risiko Pasar (Perubahan Kondisi Ekonomi dan Politik): Perubahan kondisi ekonomi dan/atau politik dapat mempengaruhi pergerakan harga surat utang, sebagai contoh perubahan tingkat suku bunga.

 

  1. Risiko Kredit (Wanprestasi): Risko yang terjadi karena perusahaan penerbit surat utang mengalami gagal bayar atau wanprestasi.

 

  1. Risiko Pelunasan Lebih Awal: Adanya risiko penurunan harga jika investor melunasi investasinya lebih awal.

 

  1. Risiko Perubahan Peraturan: Perubahan dalam perundangan-undangan yang berlaku dan kebijakan perpajakan dapat memengaruhi hasil investasi, sebagai contoh perubahan aturan pajak.

 

  1. Risiko Industri: Secara spesifik mengacu pada risiko yang berkaitan dengan industri tempat peruahaan penerbit surat utang tersebut bergerak.

 

  1. Risiko Likuiditas: Mengacu pada kesulitan Manajer Investasi melakukan pembayaran atas kegiatan pencairan yang dilakukan investornya. Kondisi ini bisa terjadi ketika investor melakukan pencairan sementara surat utang tidak lakuk di pasaran.

 

Dari seluruh risiko di atas, yang perlu menjadi perhatian utama calon investor adalah Risiko Kredit atau Wanprestasi. Karena begitu perusahaan penerbit mengalami gagal bayar, semua indikasi return dan proteksi atas investasi awal akan hilang.

 

Sesuai dengan prinsip investasi, “Semakin tinggi potensi imbal hasil, semakin tinggi risikonya.” Reksa Dana Terproteksi memang memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi dbandingkan dengan Deposito dikarenakan adanya obligasi korporasi yang menjadi underlying asset.

 

Akan tetapi, ada juga resiko yang melekat dengan Reksa Dana Terproteksi, yaitu resiko kredit dari obligasi korporasi. Sebelum membeli Reksa Dana Terproteksi, calon nasabah harus betul – betul mempelajari perusahaan yang menerbitkan surat utang (kondisi ekonomi, kondisi industri, dan keuangan) karena ada potensi gagal bayar yang dapat dialami oleh perusahaan penerbit utang.

 

Dengan mempelajari perusahaan penerbit utang, Raizers dapat mengukur kembali profil risiko masing – masing sebelum membeli Reksa Dana Terproteksi. Di sisi lain, Reksa Dana Terproteksi juga dapat menjadi diversifikasi investasi di luar Reksa Dana umum yang sudah Raizers miliki.

 

Android/IOS

Investasi Sekarang! Download E-book Belajar Investasi Untuk Pemula


Ada Pertanyaan? whatsapp