Penyesalan Terbesar di Masa Tua - Raiz Invest

Penyesalan Terbesar di Masa Tua

Raizers, pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya ketika Anda sudah berusia lanjut? Menua merupakan keniscayaan – semua orang pasti akan mengalaminya – namun tidak semua orang siap menerima atau menghadapi kenyataan tersebut. Banyak yang terpuruk di masa tua mereka, dan tidak sedikit yang larut dalam kesedihan atau penyesalan karena tidak melakukan apa yang sebaiknya mereka lakukan (atau melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan) di masa muda mereka.

Berdasarkan riset internal kami di Raiz, ada 6 faktor yang menjadi penyebab utama timbulnya penyesalan di masa tua:

  1. Tidak sungguh-sungguh bekerja dan membangun karir

Sebagian orang menganggap bahwa bekerja adalah sekedar menyelesaikan tugas, tanpa ada niat untuk menguasai suatu keahlian atau keterampilan tertentu, atau untuk mencapai keunggulan (excellence) di pekerjaannya. Jika Anda hanya menyelesaikan pekerjaan dan menerima gaji setiap bulannya tanpa pernah peduli atau memikirkan keberlangsungan atau kemajuan karir Anda, maka jangan terkejut jika karir Anda tidak akan cemerlang (dan konsekuensinya adalah kesejahteraan Anda juga cenderung akan stagnan). Bagi Anda yang menjadi wirausahawan, sikap cepat puas (complacent) dan tidak ulet akan menyebabkan usaha Anda sulit berkembang, atau bahkan bangkrut.

Selain niat dan kesungguhan dalam meniti karir ataupun menjalankan usaha, Raizers juga perlu memiliki kegigihan dan tekad untuk memberikan yang terbaik, baik untuk perusahaan (jika Anda menjadi pekerja profesional), atau untuk pelanggan (jika Anda menjadi pengusaha). Lebih lanjut, adalah penting juga bahwa karir ataupun usaha yang Anda jalankan dapat memberikan manfaat atau nilai tambah bagi masyarakat. Ini yang menjelaskan mengapa ada orang yang selektif memilih perusahaan tempat dia bekerja, atau memilih jenis usaha yang akan dijalaninya. Ini juga yang menjelaskan mengapa sebagian orang mau bekerja di instansi nirlaba (non-profit organization), karena mereka merasa bisa memberikan sumbangsih nyata bagi masyarakat.

  1. Tidak menjaga kesehatan

Saat Anda masih muda rasanya tidak ada keterbatasan fisik yang bisa menghalangi niat Anda untuk bekerja, bepergian atau melakukan aktivitas yang Anda sukai. Namun seiring dengan pertambahan usia, tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi fisik akan semakin menurun, dan tidak jarang penyakit kronis akan mendera.

Gaya hidup yang tidak sehat, sepertinya misalnya malas berolahraga atau bergerak, tidak menjaga keseimbangan gizi, kurang istirahat, merokok, mengkonsumsi alkohol atau bahkan narkoba, berpotensi menganggu kesehatan dan kebugaran tubuh Anda. Dan jika ini berlangsung dalam waktu cukup lama, tidak tertutup kemungkinan Anda bisa didera penyakit serius seperti kanker, stroke, kencing manis (diabetes mellitus) atau pengerasan hati (cirrhosis). Jika Anda sakit serius pada masa tua, pernahkah terbayangkan bagaimana repotnya Anda? Apalagi jika Anda sudah tidak dalam masa produktif sehingga selain kondisi fisik sudah menurun, Anda juga mungkin tidak punya cukup uang untuk membiayai pengobatan.

  1. Tidak punya persiapan pensiun

Tidak sedikit orang sibuk bekerja dan membina karir selama usia produktifnya, namun lupa atau abai mempersiapkan diri menghadapi masa pensiun.

Apalagi jika Anda sudah terbiasa dengan gaya hidup tertentu, dan kita tidak mau gaya hidup tersebut berubah drastis saat pensiun maka Anda perlu mengumpulkan uang sejak muda agar nanti pada saat Anda pensiun Anda bisa mempertahankan gaya hidup tersebut.

Persiapan pensiun bukanlah melulu soal menyiapkan dana atau tabungan untuk tetap bertahan hidup, namun juga terkait persiapan mental agar tidak terkena post power syndrome (mereka yang sebelum pensiun memiliki jabatan yang tinggi atau cukup terkenal di masyarakat rentan terhadap post power syndrome) sehingga menimbulkan beban mental baik terhadap diri sendiri maupun keluarga terdekat.

Adalah penting juga untuk tetap memiliki aktivitas dan interaksi sosial pada masa pensiun. Mengapa demikian? Karena kedua hal tersebut akan menjaga agar otak Anda tetap aktif dan terasah, sehingga Anda tidak menjadi pikun. Menekuni hobi atau usaha yang Anda sukai, atau bergabung di komunitas sosial merupakan pilihan yang dapat Anda ambil saat Anda memasuki masa pensiun. Sebagai contoh, ada pensiunan yang senang berkebun sehingga memilih pindah ke desa dan membuat kebun sayur organik, di mana hasil kebunnya bisa dijual untuk membiayai hidup sehari-harinya. Ada juga pensiunan yang sudah memiliki cukup tabungan untuk bertahan hidup, sehingga ia pun memilih menekuni hobi yang memberikan kesenangan bagi dirinya, misalnya kaligrafi, fotografi, musik, menulis, dan sebagainya. Juga ada yang masih berkarir, namun mengambil peran sebagai komisaris, penasihat, atau konsultan, di mana ia masih bisa menyumbangkan pikiran dan pengalamannya untuk memecahkan masalah atau memberikan manfaat bagi perusahaan atau masyarakat.

  1. Tidak berinvestasi

investasi adalah kegiatan mengumpulkan sejumlah dana dengan tujuan mendapatkan keuntungan finansial. Akan tetapi sebagian orang belum sadar akan pentingnya investasi dan karenanya tidak melakukannya. Kebanyakan dari mereka lebih suka menabung atau menaruh dananya dalam bentuk deposito di bank. Mereka khawatir hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diinginkan dan mereka mencari yang pasti dan aman. Padahal jika kita melakukan investasi dengan benar kita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

Banyak alasan mengapa kita perlu berinvestasi. Kita pasti mempunyai tujuan keuangan di masa datang misalnya berlibur ke luar negeri, melaksanakan kegiatan ibadah (misalnya umroh, naik haji), melanjutkan pendidikan dan tujuan lainnya. Intinya, dengan berinvestasi kita bisa mewujudkan tujuan keuangan kita.

Mengapa kita perlu berinvestasi?
1. Melawan inflasi
Kita perlu berinvestasi karena adanya inflasi atau penurunan nilai mata uang. Selama ada kenaikan harga, maka nilai mata uang akan terus merosot. Bahkan orang kaya sekalipun wajib berinvestasi untuk melindungi asetnya agar tidak tergerus inflasi.

2. Potensi keuntungan dan kebebasan finansial
Setiap orang pasti ingin kekayaannya bertambah seiring berjalannya waktu, dan dengan berinvestasi Anda bisa memupuk kekayaan Anda. Banyak jenis investasi yang menawarkan potensi imbal hasil yang atraktif, namun sebelum Anda berinvestasi sebaiknya ketahui dulu tujuan dan profil risiko Anda karena keduanya juga berpengaruh pada hasil investasi.

Selain itu kita harus waspada dengan skema investasi bodong yang menawarkan imbal hasil yang sangat tinggi. Pada dasarnya, makin besar potensi imbal hasil investasi, makin besar pula risiko yang harus Anda tanggung, sehingga makin panjang pula jangka waktu investasi Anda. Kapasitas menunggu memungkinkan Anda menghadapi dinamika naik-turunnya pasar. Anda bisa mendapatkan hasil investasi yang besar apabila anda mulai berinvestasi sejak muda. Jika kita berinvestasi sejak usia muda, maka bila kita gagal berinvestasi kita masih punya waktu banyak untuk memulainya lagi.

3. Untuk masa depan
Pendidikan adalah salah satu kebutuhan masa depan yang harus direncanakan dengan matang. Biaya pendidikan setiap tahun mengalami kenaikan sampai 20% per tahun, terutama biaya masuk perguruan tinggi semakin lama semakin mahal.

Biaya pendidikan ini tidak melulu soal pendidikan anak lho, tidaklah mustahil kemajuan jaman “memaksa” Anda untuk melanjutkan pendidikan agar kemampuan dan keterampilan Anda tetap relevan di industri tempat Anda bekerja. Revolusi industry 4.0., misalnya, suka atau tidak suka berpotensi membuat mereka yang tidak memiliki keterampilan teknis tertentu tergantikan oleh mesin, dan jika Anda termasuk dalam kelompok ini maka sebaiknya Anda mulai menimba ilmu lagi.

Selain biaya pendidikan, kita juga harus mempersiapkan biaya untuk kita pensiun.
Investasi tidaklah serumit dan semudah yang kita bayangkan. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memastikan tujuan keuangan dan ketahui profil risiko Anda supaya anda bisa berinvestasi pada instrumen investasi yang pas.

  1. Tidak meluangkan cukup waktu untuk keluarga dan teman

Banyak orang yang selama masa produktinya larut dalam kesibukan kerja, berangkat kerja pagi-pagi buta dan baru pulang pada larut malam. Ada pula yang memiliki sifat gila kerja (workaholic), sehingga akhir pekan pun mereka habiskan untuk bekerja, bukan diluangkan untuk bersenang-senang dengan keluarga dan/atau teman. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang sukses memiliki sifat workaholic sukses dalam karir atau usahanya, namun pencapaian tersebut berimbas pada kehidupan pribadi mereka. Ketidakharmonisan dalam rumah tangga, masalah dalam perkembangan anak, merupakan contoh akibat dari ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Kemajuan teknologi juga ditengarai dapat berimbas buruk pada kehidupan sosial kita. Banyak orang yang saat ini tidak bisa lepas dari ponsel mereka, orangtua memberikan anak-anaknya akses ke gadget sejak usia dini agar mereka tidak rewel, dan tidak jarang kita menemui situasi di mana satu keluarga duduk bersama di restoran namun tidak ada interaksi di antara mereka karena masing-masing sibuk dengan ponsel mereka (mungkin keluarga Anda bahkan salah satunya?!). Teknologi memang dapat membantu memudahkan hidup kita, namun perlu disadari bahwa keberadaan keluarga dan teman terdekat jauh lebih penting bagi kita, sehingga manfaatkan setiap momen bersama mereka semaksimal mungkin.

Yang menarik, sebuah penelitian1 yang dilakukan di University of Chicago, Amerika Serikat, menyatakan bahwa ketika teknologi digunakan untuk terhubung dengan orang dan memelihara hubungan yang ada, maka teknologi dapat mengurangi kesepian. Tetapi ketika penggunaan Internet menggantikan interaksi offline dengan orang lain, maka itu dapat meningkatkan rasa kesepian.

  1. Tidak sempat mengutarakan perasaan

Mungkin Anda berpikir ini hanyalah menyangkut perasaan cinta kepada seseorang, namun ini sebenarnya juga terkait perasaan-perasaan lain seperti penyesalan, rasa bersalah, maupun perhatian atau kasih saying kepada sanak keluarga atau teman. Masalah yang tidak terselesaikan dengan tuntas, akhir hubungan cinta yang mendadak atau akibat keterpaksaan, memang bisa membuat ganjalan di hati sampai usia lanjut sekalipun. Namun perlu disadari bahwa memendam perasaan tidak baik pengaruhnya bagi kesehatan mental kita, dan jika kesehatan mental kita terganggu maka kesehatan fisik kita pun pada gilirannya akan ikut terganggu. Untuk itu belajarlah untuk bersikap pasrah dan senantiasa bersyukur. Seringkali kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan karena bukan itu yang kita perlukan. Dengan berserah diri dan bersyukur, Anda membantu diri Anda sendiri menjaga kedamaian hati sehingga Anda bisa hidup tenang.

Jadi bagaimana Raizers? Semoga artikel ini bisa menjadi refleksi dan kontemplasi diri, sehingga Anda dapat mengisi masa muda dengan produktif dan tetap sejahtera lahir batin saat Anda berusia lanjut. Selamat berkarya, berkontribusi bagi sesama dan berinvestasi demi masa depan yang lebih baik.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap