Napak Tilas Sejarah Pasar Modal dan Reksa Dana Syariah di Indonesia - Raiz Invest

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia praktis memiliki potensi pangsa pasar modal syariah terbesar di dunia. Namun di sisi lain, rasio nilai kapitalisasi pasar terhadap PDB (Pertumbuhan Domestik Bruto) Indonesia masih berada di bawah 50%. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan pasar modal, termasuk pasar modal syariah, di Indonesia masih sangat besar.

Dilihat dari sejarah perkembangannya, saat ini investasi syariah yang sudah ada di Indonesia semakin beragam dan banyak peminatnya. Mengapa? Karena investasi syariah mengedepankan transparansi, keterbukaan dan keadilan. Maka tidak heran, banyak alternatif-alternatif Lembaga Keuangan Syariah yang menghindari sistem bunga oleh MUI tahun 2003. Sejak saat itulah, lahir bank syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, reksadana syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya. Bahkan, saat ini investasi syariah di Indonesia sudah bisa ditempatkan dalam bentuk obligasi (sukuk) dan saham.

Saat ini pasar modal syariah sudah semakin berkembang dan berbagai produk investasi syariah sudah banyak tersedia sebagai pilihan, termasuk Reksa Dana syariah. Dalam artikel yuk kita lakukan napak tilas sejarah pasar modal syariah dan Reksa Dana syariah, agar Raizers bisa memperoleh wawasan tentang asal usul serta perkembangan pasar modal dan Reksa Dana syariah di Indonesia.

Sejarah Pasar Modal Syariah Indonesia

Tonggak sejarah kelahiran pasar modal syariah Indonesia dimulai pada tahun 1997 dengan diluncurkannya Reksa Dana syariah pertama. Kemudian pada tahun 2000 Jakarta Islamic Index (JII) diluncurkan sebagai indeks saham syariah pertama, di mana JII terdiri dari 30 saham syariah paling likuid di Indonesia. Tak lama berselang, PT Indosat Tbk. menerbitkan obligasi syariah untuk pertama kalinya di Indonesia pada awal September 2002 dengan menggunakan akad mudarabah.

Sejarah investasi syariah juga dapat ditelusuri dari perkembangan institusional yang terlibat dalam pengaturan Pasar Modal Syariah tersebut. Menyikapi perkembangan pasar modal syariah yang makin bergairah, Bapepam dan DSN-MUI menandatangani Nota Kesepahaman pada tanggal 14 Maret 2003 mengenai pengembangan pasar modal berbasis syariah di Indonesia.

Dari sisi kelembagaan, perkembangan Pasar Modal Syariah ditandai dengan pembentukan Tim Pengembangan Pasar Modal Syariah pada tahun 2003 oleh Bapepam-LK selaku regulator pasar modal saat itu (sekarang Bapepam-LK telah berganti nama menjadi Otoritas Jasa Keuangan atau disingkat OJK). Lalu, pada tahun 2004 pengembangan Pasar Modal Syariah masuk dalam struktur organisasi Bapepam dan LK, dan dilaksanakan oleh unit setingkat eselon IV yang secara khusus mempunyai tugas dan fungsi mengembangkan pasar modal syariah. Sejalan dengan perkembangan industri yang ada, pada tahun 2006 unit eselon IV yang ada sebelumnya ditingkatkan menjadi unit setingkat eselon III.

Pada tanggal 23 Nopember 2006, Bapepam-LK menerbitkan paket Peraturan Bapepam dan LK terkait Pasar Modal Syariah. Paket peraturan tersebut yaitu Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar Modal. Selanjutnya, pada tanggal 31 Agustus 2007 Bapepam-LK menerbitkan Peraturan Bapepam dan LK Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah dan diikuti dengan peluncuran Daftar Efek Syariah pertama kali oleh Bapepam dan LK pada tanggal 12 September 2007.

Selanjutnya pada tahun 2007 dikeluarkanlah Daftar Efek Syariah (DES) sebagai panduan bagi pelaku pasar dalam memilih saham yang memenuhi prinsip syariah. Pada tahun 2008, pemerintah menerbitkan Undang-undang No. 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara. Perkembangan pasar modal syariah terus berlanjut dengan diluncurkannya Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) pada tahun 2011 sebagai indeks komposit saham syariah, yang terdiri dari seluruh saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perkembangan Pasar Modal Syariah mencatat tonggak sejarah baru dengan disahkannya UU Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada tanggal 7 Mei 2008. Undang-undang ini diperlukan sebagai landasan hukum untuk penerbitan surat berharga syariah negara atau sukuk negara. Pada tanggal 26 Agustus 2008 untuk pertama kalinya Pemerintah Indonesia menerbitkan SBSN seri IFR0001 dan IFR0002.

Pada tanggal 30 Juni 2009, Bapepam-LK telah melakukan penyempurnaan terhadap Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

Masih di tahun 2011, Syariah Online Trading System (SOTS) diluncurkan guna memfasilitasi perdagangan efek syariah. Yang membanggakan, SOTS merupakan sistem pertama di dunia yang dikembangkan untuk memudahkan investor syariah melakukan transaksi saham sesuai prinsip Islam.

Pada tahun 2013, Bank Syariah Mandiri menjadi bank yang mengelola Rekening Dana Nasabah (RDN) Syariah pertama. Selain itu, pada tahun yang sama, ETF Syariah pertama diluncurkan di Indonesia, dan Bank Panin Syariah menjadi emiten syariah pertama yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014.

Sejarah Reksa Dana Syariah

Seperti telah disebutkan di atas, sejarah kelahiran pasar modal syariah Indonesia diawali dengan diterbitkannya Reksa Dana syariah pertama pada pada tanggal 3 Juli 1997 PT Danareksa Investment Management. Tiga tahun berselang, Bursa Efek Indonesia bekerjasama dengan PT Danareksa Investment Management meluncurkan Jakarta Islamic Index pada tanggal 3 Juli 2000. Peluncuran JII bertujuan memberikan panduan kepada para investor yang ingin menginvestasikan dananya di saham-saham yang sesuai dengan prinsip syariah.

Untuk mendorong penguatan iklim investasi bagi investor muslim, maka pada tanggal 18 April 2001 Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan fatwa yang berkaitan langsung dengan pasar modal, yaitu Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah.

Perkembangan Reksa Dana Syariah di Indonesia

Berdasarkan statistik Reksa Dana Syariah yang dihimpun oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selama 10 tahun terakhir (2010-2020, di mana saat artikel ini ditulis data terkini adalah per April 2020), Nilai Aktiva Bersih atau dana kelolaan Reksa Dana syariah telah tumbuh sebesar sekitar 30% per tahunnya (dihitung dengan rumus Compound Annual Growth Rate atau pertumbuhan majemuk tahunan). Dari segi jumlah produk, selama periode 10 tahun terakhir, jumlah Reksa Dana syariah bertambah dari 48 di akhir tahun 2010 menjadi 276 di akhir April 2020, alias telah tumbuh hamper 6 kali lipat. Pertumbuhan yang fantastis bukan?

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Menilik sejarah perkembangan pasar modal dan Reksa Dana syariah, dapat disimpulkan bahwa ke depannya akan makin banyak produk yang dapat dipilih investor. Sebagai platform investasi yang ditujukan untuk para investor pemula, Raiz Invest Indonesia tidak mau ketinggalan menawarkan Reksa Dana syariah sebagai aset dasar portofolio. Dalam waktu dekat Raiz akan meluncurkan 2 Reksa Dana syariah – 1 berbasis pasar uang dan 1 lagi berbasis pendapatan tetap/obligasi yang dikelola oleh salah satu Manajer Investasi Reksa Dana syariah terkemuka di Indonesia dengan harapan agar Raiz dapat memberikan lebih banyak pilihan dan kesempatan bagi para investornya, khususnya mereka yang ingin investasinya sesuai dengan kaidah syariah. Jadi ikuti terus perkembangan seputar peluncuran produk syariah Raiz melalui laman media sosial Raiz dan nantikan promo menarik jelang dan seputar peluncurannya. Mari Bersama kita sambut era investasi syariah di platform Raiz.

Google Play

Investasi Sekarang! Download E-book Belajar Investasi Untuk Pemula


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Ada Pertanyaan? whatsapp
Share via
Copy link
Powered by Social Snap