Mengapa Rp 1 Sudah Tidak Ada Lagi - Raiz Invest

Baru-baru ini ada salah satu Raizer yang mengajukan pertanyaan yang menggelitik di laman sosial media Raiz: mengapa di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Malaysia masih ada uang USD 1 dan 1 Ringgit sementara di Indonesia sudah tidak ada lagi Rp 1? Raizer ini juga menyatakan bahwa bahkan Dollar Amerika Serikat nilai intrinsiknya naik terus setiap tahunnya.

Karena jawaban atas pertanyaan tersebut cukup panjang, dan kami menilai bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat bagus, maka artikel ini mencoba memberikan penjelasan dengan harapan baik si penanya maupun Raizers secara keseluruhan bisa tercerahkan.

Tahukah Anda baru dalam di balik selembar atau sekeping uang terdapat 3 nilai? Ketiga nilai tersebut adalah (1) nilai nominal, (2) nilai intrinsik, dan (3) nilai riil.

Nilai intrinsik dan nilai nominal

Mari kita mulai dengan membahas nilai intrinsik dan nilai nominal uang. Nilai intrinsik adalah nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilai emas atau perak yang digunakan untuk mata uang. Sedangkan nilai nominal adalah nilai yang tercantum pada mata uang atau cap harga yang tertera pada mata uang. Contohnya, nilai nominal uang logam Rp 100 adalah Rp 100, tapi nilai intrinsiknya bisa jadi lebih besar dari Rp 100 karena aluminium yang digunakan nilainya lebih dari Rp 100. Buat Raizers yang sudah cukup tua, mungkin Anda ingat bahwa pada jaman dulu uang logam Rp 100 dan Rp 500 terbuat dari perunggu, sebelum kemudian diganti dengan aluminium yang lebih murah. Dengan demikian nilai intrinsik uang logam Rp 100 dan Rp 500 berubah karena sekarang kedua uang logam tersebut terbuat dari aluminium yang lebih murah harganya dibandingkan perunggu.

Nilai intrinsik uang hanya berubah jika terjadi perubahan bahan baku untuk membuat uang tersebut. Misalnya dulu uang logam dibuat dari emas, kemudian diganti ke perunggu. Atau uang kertas diganti bahannya dari kertas menjadi plastik. Jadi selama uang kertas dollar Amerika Serikat masih terbuat dari jenis kertas yang sama, maka nilai intrinsiknya relatif tidak akan berubah dari waktu ke waktu, sementara nilai nominalnya pun tetap USD 1. Yang berubah adalah apakah dengan uang USD 1 Anda tetap bisa membeli barang atau jasa yang sama setiap waktunya, dan jawabannya tergantung dari tingkat inflasi di Amerika Serikat. Inilah yang disebut nilai riil.

Nilai riil

Yang dimaksud nilai riil adalah kemampuan daya tukar atau daya beli uang pada barang atau jasa. Sekilas memang mirip dengan nilai nominal, tapi sebenarnya berbeda. Untuk memahami perbedaannya, mari kita simak contoh berikut ini.

Lima tahun yang lalu, Rp 5.000 bisa untuk membeli semangkuk bakso. Namun sekarang tidak bisa. Ini artinya nilai riil Rp 5.000 tersebut telah menurun. Sedangkan nominalnya masih tetap sama.

Berdasarkan daya belinya, nilai riil uang dibedakan lagi menjadi 2:

  1. Nilai internal

Nilai internal menyatakan kemampuan uang untuk membeli barang dan atau jasa dalam suatu negara. Misal uang sebesar Rp 10.000 di Indonesia bisa untuk membeli 1 kilogram beras. Ini artinya Rp 10.000 memiliki nilai internal sebesar 1 kilogram beras. Yang mempengaruhi nilai internal adalah inflasi.

  1. Nilai eksternal

JIka nilai internal adalah nilai daya tukar uang dengan barang dan jasa dalam suatu negara, maka nilai eksternal adalah kemampuan uang dalam negeri untuk ditukar dengan uang asing. Secara umum nilai ini lebih dikenal sebagai kurs mata uang. Contohnya: Uang Rp 14.000 bisa ditukar uang Amerika senilai USD 1. Ini artinya nilai eksternal Rp 14.000 sebesar USD 1. Yang mempengaruhi nilai eksternal adalah faktor-faktor makroekonomi. Berikut adalah 6 faktor yang bisa mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang antara dua negara:

  1. Perbedaan tingkat inflasi antara kedua negara
  1. Perbedaan tingkat suku bunga antara kedua negara
  1. Neraca perdagangan
  1. Utang publik (public debt)
  1. Rasio harga ekspor dan harga impor
  1. Kestabilan politik dan ekonomi

Mengapa Rp 1 sudah tidak ada lagi?

Uang Rp 1 sudah tidak ada lagi karena inflasi di Indonesia tinggi. Seperti telah dibahas di artikel sebelumnya, inflasi berarti kemerosotan nilai uang. Merosotnya nilai uang menyebabkan Anda harus membayar dengan harga yang lebih tinggi untuk barang yang sama. Meskipun selama kurang lebih 20 tahun terakhir data Bank Indonesia menunjukkan tingkat inflasi tahunan Indonesia selalu berada di bawah 10% (bahkan selama kurang lebih 5 tahun belakangan ini tercatat rata-rata di bawah 5%), di masa lampau Indonesia pernah mengalami inflasi yang tinggi. Bahkan di periode 1963-1965 terjadi hiperinflasi alias inflasi yang sangat tinggi (saat itu inflasi tercatat mencapai 1.000% per tahun). Sedemikian tergerusnya nilai uang saat itu sehingga praktis harga-harga barang pun melonjak. Sebagai contoh, kalau sebelumnya Anda bisa membeli sebatang rokok dengan Rp 1, maka dalam periode hiperinflasi harga sebatang rokok tersebut bisa melonjak menjadi Rp 5 atau bahkan Rp 100! Alhasil, uang Rp 1 pun berangsur hilang dari peredaran karena tidak cukup berharga lagi untuk membeli barang atau jasa.

Contoh lainnya adalah pengalaman pribadi CEO Raiz. Saat ia masuk taman kanak-kanak (TK) pada tahun 1980, ia bisa membeli sebungkus bihun goreng dengan harga Rp 25, dan ia masih ingat betul ia membayarnya dengan sekeping uang logam bernominal Rp 25. Masuk sekolah dasar (SD), ia masih menjadi penggemar setia bihun goreng tersebut dan ia mengalami sendiri bahwa harga bihun goreng naik setiap kali ia naik kelas, sedemikian rupa hingga pada saat ia lulus SD pada tahun 1986, harganya sudah mencapai Rp 150 per bungkus! Jadi dalam waktu 6 tahun sebungkus bihun goreng favoritnya sudah naik 6x lipat dari Rp 25 menjadi Rp 150 dan ia juga mengamati bahwa uang logam Rp 25 berangsur hilang dari peredaran saat ia lulus SD. Kiranya nasib yang sama dialami oleh uang Rp 1 pada periode 1960-an. Pengalaman sederhana namun menarik yang dapat memberikan gambaran tentang efek inflasi dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, ada fakta sejarah yang menarik untuk Raizer simak mengenai bagaimana kondisi hiperinflasi bisa membuat nominal mata uang suatu negara berubah menjadi (sangat) besar, alias bertambah banyak angka nol di belakangnya. Di Indonesia misalnya, nominal terkecil saat ini adalah Rp 100 dan yang terbesar adalah Rp 100.000. Sedangkan harga barang di Indonesia saat ini sudah mencapai ratusan ribu dan bahkan milyaran rupiah. Bagaimana dengan negara-negara lain? Apakah ada negara yang mengalami hal serupa atau mungkin lebih parah?

Contoh ekstrim negara yang mengalami hiperinflasi adalah Zimbabwe , di mana hiperinflasi ini berlangsung cukup lama, dari tahun 2007 hingga 2015. Pada puncaknya, inflasi di Zimbabwe mencapai 79.600.000.000% (79,6 milyar persen) dalam 1 bulan, atau setara dengan 89,700,000,000,000,000,000,000 persen (89,7 sextillion persen) dalam setahun.

Ini artinya nilai mata uang Zimbabwe yaitu Zimbabwe Dollar merosot milyaran persen dalam waktu sebulan! Dengan demikian, pemerintah Zimbabwe harus mencetak uang baru yang bernominal ratusan ribu hingga trilyunan, namun konon uang trilyunan pun hanya cukup untuk membeli 1 roti. Wow, sulit dibayangkan ya?

Uang kertas Zimbabwe DollarSumber: Wikipedia 

Google Play

Investasi Sekarang! Download E-book Belajar Investasi Untuk Pemula

Ada Pertanyaan? whatsapp
Share via
Copy link
Powered by Social Snap