Wawasan Mingguan Pasar Indonesia (23 - 29 Agustus): Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap Membaik di tengah Taper Tantrum Federal Reserve - Raiz Invest

Image Name

Pasar saham ditutup melemah dalam seminggu terakhir. IHSG ditutup menguat 0,18% dalam sepekan terakhir. Penguatan IHSG yang terjadi disebabkan oleh saham-saham small dan medium caps yang kembali naik setelah 2 minggu terakhir mengalami aksi jual oleh investor retail. Sedangkan, indeks LQ45 mengalami pelemahan dengan aksi profit taking setelah saham big caps ditutup menguat dalam 2  minggu terakhir.

Walaupun ada sentimen taper tantrum yang dapat memberikan efek negatif terhadap pasar saham Indonesia dikarenakan porsi kepemilikan asing yang jauh lebih rendah dibandingkan di tahun 2013, volatilitas pasar saham tetap tinggi dikarenakan frekuensi trading nasabah retail yang lebih tinggi dibandingkan tahun – tahun sebelumnya.

Dari sisi obligasi, yield obligasi Pemerintah 10 tahun mengalami penurunan sebesar 18bps dalam sepekan terakhir. Penurunan yield obligasi Pemerintah secara tidak langsung didorong oleh investor asing yang masuk ke pasar obligasi sebesar Rp8,2 triliun MTD. Kita melihat yield obligasi Pemerintah 10 tahun berpotensi untuk kembali ke 6,0%, level yang sempat disentuh pada awal tahun.

Kita juga melihat efek dari taper tantrum di tahun ini jauh lebih dapat dikendalikan dibandingkan pada tahun 2013. Jumlah kepemilikan asing terhadap obligasi Pemerintah jauh lebih rendah di tahun ini di level 22% dibandingkan di tahun 2013 di atas 30%. Ditambah, dukungan likuiditas domestik dari perbankan dan Bank Indonesia di pasar obligasi juga membuat fundamental pasar obligasi Indonesia jauh lebih stabil.

Nilai tukar Rupiah juga menguat 0,2% dibandingkan minggu lalu yang melemah 0,5% terhadap USD.

Sentimen taper tantrum Federal Reserve yang kemungkinan akan terjadi pada akhir tahun ini, menurut kami, tidak akan memberikan dampak yang terlalu tinggi terutama di pasar obligasi. Rendahnya kepemilikan asing terhadap obligasi Pemerintah membuat pasar obligasi Indonesia lebih stabil sehingga potensi kenaikan yield secara signifikan sangat minimum. Kita juga melihat yield obligasi Pemerintah 10 tahun berpotensi untuk mencapai 6%.

Selain itu, ditengah isu taper tantrum Federal Reserve, investor asing pasti akan mencari pasar obligasi yang stabil dan memberikan yield yang menarik. Sehingga, kita melihat pasar obligasi Indonesia bisa menjadi pilihan yang menarik bagi investor asing.

Sehingga, investasi pada Reksa Dana Pendapatan Tetap terlihat menarik dengan volatilitas yang stabil dan potensi penurunan yield obligasi Pemerinta 10 tahun ke level 6% (sama pada awal tahun 2021). Dukungan likuditas domestik dari perbankan dan Bank Indonesia juga menadi sentimen positif bagi Reksa Dana Pendapatan Tetap.

DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

 

 

 

 

Android/IOS

Investasi Sekarang! Download E-book Belajar Investasi Untuk Pemula


Ada Pertanyaan? whatsapp