Inflasi dan Pengaruhnya Terhadap Uang Anda - Raiz Invest

Seringkali kita mendengar atau membaca tentang inflasi, namun tidak sedikit yang sebenarnya tidak mengerti sepenuhnya apakah inflasi itu. Mari kita pahami apa itu inflasi dan pengaruhnya terhadap uang yang Anda miliki.

Sebagai sebuah indikator untuk melihat tingkat perubahan, inflasi terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. Sebagai indikator yang mencerminkan pola pengeluaran, angka inflasi yang meningkat mencerminkan kenaikan biaya hidup. Dengan kata lain, inflasi membuat nilai uang Anda susut sehingga daya beli Anda melemah.

Untuk menggambarkan bagaimana pengaruh inflasi terhadap uang Anda, ingatkah Anda apa saja yang dapat Anda beli di supermarket dengan uang Rp 100.000 di tahun 2000, 2005, 2010, 2015 dan sekarang? Jika Anda ingat-ingat, pasti terbayang dengan uang Rp 100.000 di tahun 2000 keranjang belanjaan Anda pasti lebih penuh dibandingkan dengan di tahun 2005, 2010 dan seterusnya. Contoh lain: jika Anda biasa mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu, misalnya semangkuk bakso, ingatkah Anda berapa harganya di tahun 2000, 2005, 2010, 2015 dan sekarang? Tidak sulit rasanya mengingat bahwa harga semangkuk bakso sekarang lebih mahal dibandingkan harga di tahun 2000, 2005, 2010 dan seterusnya.

Namun inflasi yang lebih tinggi diharapkan bisa diimbangi oleh kenaikan penghasilan, artinya nilai uang kita juga harus meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan kenaikan inflasi. Ada satu hal yang sangat terpengaruh oleh kenaikan inflasi, yakni tabungan. Bila suku bunga di tabungan Anda lebih rendah ketimbang tingkat inflasi, maka nilai uang Anda akan mengalami penurunan, dan seiring dengan itu, daya beli Anda pun menurun. Perlu dicatat bahwa saat ini sangat jarang ada elativ perbankan tradisional yang menawarkan suku bunga yang mampu mengalahkan tingkat inflasi, jadi jika Anda hanya mengandalkan tabungan sebagai sarana Anda mengumpulkan uang, sepertinya Anda harus bersiap-siap kecewa.

Bila tidak ingin nilai uang Anda lama-kelamaan menyusut, Anda harus mencari solusinya, dan itu artinya Anda harus mencari instrumen yang bisa memberikan imbal hasil yang lebih baik. Tapi Anda hanya bisa mendapatkan imbal hasil yang lebih baik jika Anda berani menanggung risiko investasi yang lebih besar.

Meski demikian, Anda tidak harus mengalihkan semua tabungan Anda ke instrumen investasi dengan tingkat risiko yang tinggi demi mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi. Yang harus dilakukan adalah membagi alokasi dana Anda ke berbagai instrumen investasi sesuai dengan kebutuhan dan jangka waktunya:

  • Untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk dana darurat (emergency fund), alokasikan ke tabungan, karena selain bisa dicairkan kapan saja, tabungan tidak mengalami fluktuasi nilai akibat pergerakan pasar. Selama tidak ada penarikan, nilai tabungan akan selalu naik seiring berjalannya waktu karena adanya bunga.
  • Untuk dana yang menganggur:
  • Jika Anda akan perlu mencairkannya dalam waktu yang relatif singkat (maksimal 1 tahun), Anda bisa menyimpannya dalam bentuk deposito. Upayakan agar uang tersebut tidak dibutuhkan dalam kurun waktu sesuai jangka deposito karena tidak bisa ditarik hingga jangka waktunya terpenuhi.
  • Jika dana yang menganggur baru akan Anda cairkan 1-5 tahun mendatang, Anda bisa menaruhnya di obligasi atau Reksa Dana pendapatan tetap (Reksa Dana berbasis obligasi).
  • Jika dana baru akan Anda cairkan lebih dari 5 tahun mendatang (misalnya untuk membiayai biaya kuliah anak Anda yang saat ini masih berusia 5 tahun), maka Anda bisa menaruhnya di saham atau Reksa Dana saham.

Tidak sulit bukan? Jadi tunggu apa lagi, mulailah mengalokasikan dana Anda sesuai kebutuhan dan jangka waktunya.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap