Hal-Hal yang Perlu Anda Ketahui Saat Anda Mulai Berinvestasi - Raiz Invest

Saat Anda ingin memulai sesuatu, tentunya Anda ingin mengetahui atau mempelajari terlebih dahulu konsep dasarnya, untuk mendapatkan gambaran mengenai apa yang bisa diharapkan dari kegiatan yang akan Anda lakukan tersebut.

Bagaimana dengan investasi? Sebelum mulai berinvestasi, apa saja yang perlu Anda ketahui? Dalam artikel ini mari kita uraikan dan kaji konsep dasar investasi agar Anda dapat memperoleh pemahaman dasar mengenai investasi dan apa saja yang perlu Anda perhatikan.

Pengertian dasar investasi meliputi hal-hal sebagai berikut:

  • Perbedaan menabung dan berinvestasi
  • Mengapa investasi itu penting
  • Instrumen investasi dasar
  • Profil risiko dan imbal hasil
  • Diversifikasi

Perbedaan menabung dan investasi

Meskipun banyak yang sudah mulai menabung, banyak yang belum mengerti apa perbedaan antara menabung dan berinvestasi. Perbedaan mendasar antara menabung dan berinvestasi adalah bahwa menabung tidak memiliki kejelasan dalam beberapa aspek:

  • Tujuan atau kebutuhan spesifik, misalnya untuk membeli mobil atau rumah, membiayai Pendidikan anak, persiapan pensiun, ibadah umroh/haji, dan lain-lain
  • Berapa besar dana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut
  • Target waktu pencapaian tujuan dan berapa lama waktu yang diperlukan/dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut
  • Pilihan instrumen investasi
  • Strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut

Sementara berinvestasi adalah kegiatan menabung dengan tujuan tertentu dan cara mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian, kegiatan investasi melibatkan perencanaan, bahkan bisa dikatakan sejak dini.

Mengapa berinvestasi itu penting?

Kegiatan investasi didorong oleh kebutuhan masa depan. Tentunya sebagai Raizer, Anda adalah orang yang peduli dengan masa depan, dan dengan demikian menyempatkan diri untuk (mulai) menata keuanganmu. Ini berarti Anda sudah mulai melakukan perencanaan – alias investasi! – guna memenuhi kebutuhan masa depanmu.

Selain kebutuhan masa depan, mungkin Anda juga terpikir melakukan investasi karena Anda sadar bahwa masa depan itu penuh dengan ketidakpastian. Jenjang karir, prospek bisnis, kondisi kesehatan pribadi maupun keluarga/orang terdekat, atau musibah merupakan faktor-faktor yang menimbulkan ketidakpastian dalam hidup sehingga merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan bijak, yaitu dengan menentukan prioritas kebutuhan, menetapkan perencanaan yang baik serta serta menjalankannya dengan disiplin.

Instrumen investasi dasar

Sebelum berinvestasi, sebaiknya Anda ketahui terlebih dahulu pilihan instrumen investasi yang tersedia.

Ada 3 jenis instrumen investasi dasar yang perlu kami pahami:

  1. Deposito/efek pasar uang
  1. Obligasi/efek pendapatan tetap
  1. Saham/efek ekuitas

Deposito berjangka (time deposit) adalah produk yang diterbitkan oleh bank. Dalam skema ini, Anda sebagai deposan (atau investor) memberikan pinjaman kepada bank dengan imbalan “bunga” atas jumlah yang kita pinjamkan kepada bank tersebut. Sebagai contoh, jika Anda menempatkan dana sebesar Rp 10 juta selama setahun dengan bunga 6% per tahun, maka setahun kemudian Anda akan menerima Rp 100 juta (nilai pokok) + 6% x Rp 10 juta (bunga) = Rp 10,6 juta. Sebagian dari Anda mungkin akan bertanya, “Dari mana bank dapat membayar bunga tersebut?” Yang bank lakukan adalah mengumpulkan semua dana dari para deposan, kemudian menyalurkan pinjaman (kredit) ke dunia usaha (perusahaan) atau konsumen (perorangan, bisa dalam bentuk pinjaman, kartu kredit, kredit kepemilikan rumah/mobil, dan sebagainya). Atas pinjaman/kredit ini bank akan memungut bunga dari para peminjam, misalnya sebesar 10%. Selisih antara bunga kredit dan bunga deposito – dalam contoh ini adalah sebesar 10% – 6% = 4% – dikenal dengan istilah spread, dan merupakan salah satu sumber penghasilan bank.

Obligasi mirip dengan deposito, namun obligasi bukanlah produk perbankan, melainkan diterbitkan pemerintah atau perusahaan. Perbedaan antara deposito dan obligasi biasanya terletak pada periode jatuh tempo: deposito berjangka pendek, sementara obligasi umumnya berjangka menengah dan panjang. Selain itu, obligasi bisa diperdagangkan di pasar sementara deposito tidak.

Bagaimana mekanisme penerbitan obligasi? Dalam konteks perusahaan, kebutuhan dana dalam jumlah besar untuk pembiayaan kegiatan usaha bisa diperoleh dari modal milik sendiri atau pinjaman dari pihak lain seperti bank atau dengan berutang langsung ke investor. Jika perusahaan memilih untuk berutang langsung ke investor, maka perusahaan akan menerbitkan obligasi. Jadi obligasi adalah surat utang yang dibeli investor. Dibandingkan dengan meminjam dari bank, lebih menguntungkan bagi perusahaan untuk menerbitkan obligasi karena bunga yang dibayarkan atas obligasi lebih rendah daripada bunga kredit bank. Jika perusahaan menerbitkan obligasi pada saat suku bunga kredit adalah sebesar 10%, maka bunga (dalam konteks obligasi dikenal dengan istilah kupon) yang ditawarkan akan lebih rendah dari 10%. Mengapa investor tertarik membeli obligasi? Karena kupon yang diterima masih akan lebih tinggi di atas bunga deposito. Tambahan (“premium”) ini diperlukan investor, karena selain perlu menganalisa perusahaan yang menerbitkan obligasi, investor juga perlu berinvestasi untuk jangka waktu yang lebih panjang (> 1 tahun) sehingga berarti harus siap menanggung risiko atas kinerja perusahaan tersebut.

Dalam konteks pemerintah/negara, pemerintah dapat menerbitkan obligasi untuk membiayai kebutuhan penyelenggaraan negara, misalnya untuk pembangunan infrastruktur, serta penyelenggaraan program pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Selain deposito dan obligasi, Anda mungkin sudah sering mendengar tentang saham. Sekalipun berisiko tinggi, saham merupakan pilihan instrumen yang atraktif karena memiliki potensi imbal hasil yang juga tinggi.

Bagaimana mekanisme penerbitan saham? Selain dari modal sendiri, kredit bank dan penerbitan obligasi, pemilik perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan perusahaan dengan menjual sebagian kepemilikan (saham)-nya kepada investor. Jika penjualan ini dilakukan terhadap investor publik, maka ini sering dikenal dengan istilah go public. Mengapa investor tertarik membeli saham perusahaan? Sejatinya perusahaan yang baik akan mampu memberikan imbal hasil investasi yang lebih tinggi dari bunga pinjaman deposito atau bahkan bunga kredit, karena sebagian modal usahanya umumnya berasal dari kredit bank, sehingga perusahaan perlu menghasilkan kinerja yang lebih tinggi agar bisa melunasi kredit tersebut. Selain itu, mendirikan dan menjalankan usaha adalah kegiatan berisiko tinggi (misalnya kemungkinan bangkrut) sehingga wajar jika pengusaha akan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi dari bunga pinjaman. Sebagai investor, Anda dapat ikut menikmati potensi keuntungan dari perusahaan dengan memiliki saham-saham perusahaan yang sudah go public. Sebaliknya, Anda juga perlu bersiap menerima risiko layaknya pemilik perusahaan. Nah, salah satu cara mengurangi risiko investasi di saham adalah melalui diversifikasi dan berinvestasi untuk jangka panjang.

Profil risiko dan imbal hasil

Setelah membahas potensi imbal hasil dan risiko atas ketiga jenis instrumen investasi dasar, kita dapat menggambarkannya dalam diagram yang dikenal dengan istilah risk & return profile sebagaimana berikut:

Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa makin besar keuntungan/imbal hasil yang Anda harapkan, makin besar juga risiko yang harus siap Anda tanggung. Inilah yang dikenal dengan istilah high risk, high return.

Risk & return profile dapat diringkas dalam tabel berikut:

Tabel di atas menunjukkan:

  • Deposito memberikan pendapatan dalam bentuk bunga yang bersifat tetap;
  • Obligasi memberikan pendapatan dalam bentuk kupon (bisa tetap atau bervariasi) dan capital gain (selisih antara harga jual dan harga beli, bervariasi);
  • Saham memberikan pendapatan berupa dividen (pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki) dan capital gain (keduanya bervariasi)
  • Obligasi dan saham diperdagangkan di pasar dan harganya berubah-ubah setiap waktu karena faktor permintaan dan penawaran (demand & supply). Selain dari sisi jangka waktu, perubahan harga pasar ini menjelaskan mengapa obligasi dan saham memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan deposito.

Diversifikasi

Pernahkah Anda mendengar pepatah “Don’t put all your eggs in one basket”? Pepatah itu adalah esensi dari diversifikasi, yaitu untuk mengurangi risiko, Anda perlu menempatkan dana di berbagai instrumen investasi sehingga Anda bisa terhindar dari risiko kerugian secara total.

Diversifikasi dapat dilakukan atas jenis instrumen, penerbit instrumen, sektor usaha/industri, atau bahkan lokasi geografis. Karena penyebaran investasi ini memerlukan perencanaan dan pengelolaan atas portofolio (kumpulan instrumen investasi), maka diversifikasi sering juga disebut dengan istilah manajemen portofolio.

Tabel berikut mengilustrasikan bagaimana diversifikasi di ketiga instrumen investasi dapat memberikan imbal hasil yang lebih optimal dibandingkan investasi tunggal (single investment) di hanya satu jenis instrumen investasi:

Dari ilustrasi dalam table di atas, tampak bahwa untuk investasi jangka panjang (10 tahun), penyebaran investasi di 3 instrumen dasar dapat memberikan imbal hasil yang lebih tinggi (Rp257.1 juta) dibandingkan penempatan tunggal di deposito saja (Rp162,9 juta).

Nah, menarik bukan? Jadi tunggu apa lagi, segeralah memulai perjalanan investasi Anda di Raiz!

Share via
Copy link
Powered by Social Snap