Tips Archives - Raiz Invest

– Kenapa ada biaya transfer ?

Perlu kita bersama ketahui, system keuangan baik yang konvensional (Bank, Kartu Kredit dll) ataupun yang berbasis teknologi (E-Money, E- Wallet, dll) memiliki komponen biaya transfer.

Contohnya bila menggunakan transfer antar Bank, akan terkena biaya antara 3500 – 6500. Kemudian kamu juga pasti pernah membayar biaya yang dikenakan oleh platform E Wallet dan E Money setiap kamu melakukan top up saldo (Biayanya sekitar Rp1000).

Read Post

[ss_social_follow columns=”3″ scheme=”network”]Apakah Anda termasuk mereka yang selalu kebingungan jelang tanggal tua atau mereka yang selalu mengeluh bahwa gajinya numpang lewat alias tidak bersisa sama sekali untuk ditabung? Jika ya, coba simak artikel berikut ini untuk mengidentifikasikan apa saja alas an yang kerap membuat gaji numpang lewat, supaya Anda kemudian bisa mengubah sikap dan keluar dari masalah ini.

  1. Gaya hidup dan gengsi

Read Post

[ss_social_follow columns=”3″]

Di kesempatan ini mimin ingin membagikan pengalaman menarik saat menggunakan fitur switching di aplikasi Raiz, karena kebetulan kondisi market dalam beberapa minggu lalu performa market sedang mengalami penurunan. Sebelum kita berbicara lebih jauh baiknya kita memahami dulu apa itu fitur switching di aplikasi Raiz, karena ini merupakan fitur unggulan di Raiz karena sejauh ini mimin belum menemukan platfom lain yang bisa melakukan switching seperti halnya aplikasi Raiz. 

Read Post

[ss_social_follow columns=”3″]

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia praktis memiliki potensi pangsa pasar modal syariah terbesar di dunia. Namun di sisi lain, rasio nilai kapitalisasi pasar terhadap PDB (Pertumbuhan Domestik Bruto) Indonesia masih berada di bawah 50%. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan pasar modal, termasuk pasar modal syariah, di Indonesia masih sangat besar.

Read Post

[ss_social_follow columns=”3″ scheme=”network”]Hai Raizer,

Perkenalkan aku Asa, salah satu dari golongan kaum milenial….

Sadar nggak sih , di usia 20-an kebanyakan milenial belum sampai pada pemikiran untuk merencanakan keuangan mereka. Nggak percaya? Coba tengok teman-teman kalian di usia 20an deh ! Atau bahkan kita harus sambil introspeksi diri nih, jangan-jangan kita termasuk golongan yang bahkan saat ini belum bisa merencanakan keuangan dengan baik? Berapa banyak milenial zaman sekarang yang sadar pentingnya investasi untuk masa depan ? Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kelompok usia 16-30 tahun yang masuk kategori generasi milenial saat ini berjumlah sekitar 64,3 juta jiwa. Namun, berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dari kelompok tersebut yang memiliki investasi di pasar modal Indonesia hanya 1,6 juta jiwa. Waduh……. Read Post

[ss_social_follow columns=”3″ scheme=”network” button_followers=”1″ labels=”1″]Pada umumnya ada 3 karakteristik investor yang kalian harus tau yaitu investor konservatif, moderat, dan agresif. Khusus untukinvestor konservatif biasanya berinvestasi pada deposito dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya, dimana Investor konservatif mengutamakan keamanan dalam berinvestasi meskipun imbal hasi yang didapat kecil (low risk low return). Read Post

[ss_social_follow columns=”3″ scheme=”network”]

Sebelumnya perkenalkan nama saya AGUS ROHMAN biasa di panggil AGUS. Saya mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi swasta di jawabarat sekaligus aktif berbisnis.

Di samping dua kegiatan diatas saya juga aktif berinvestasi di Reksadana dan pasar modal lainnya yang ada di Bursa Efek Indonesia sejak 4 tahun yang lalu.

Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pengalaman sekaligus tips dan strategi berinvestasi yang sering di gunakan para investor. Yuk langsung saja simak pembahasannya. Read Post

[ss_social_follow columns=”3″ scheme=”network” total_followers=”1″ button_followers=”1″ labels=”1″]

Apa kata pertama yang muncul waktu mendengar istilah “investasi”? Ribet? Mahal? Hanya bisa dilakukan tuan berkantong tebal? Jangan takut kalau pembaca punya persepsi demikian. Sebab Anda tidak sendirian.

Ini adalah persepsi yang beredar sekitar kita. Apalagi pada masyarakat Indonesia. Kebanyakan memandang bahwa investasi sama dengan membeli tanah, emas, atau rumah. Pokoknya, membeli aset tetap yang mahal, prosesnya panjang, dan hanya untuk orang kaya. Read Post

Ada Pertanyaan? whatsapp